Welcome

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. An-Nuur (24) : 40

Rabu, 21 Desember 2011

Jajagi Kembali OTEC di Indonesia: Toward Ocean Energy Development in Indonesia


Prof. Mukhtasor, paling kiri
Dalam kesempatan berkunjung ke Xenesys Inc., Imari Saga, Japan, pada 19 Desember 2011, Agus R Hoetman Staf Ahli Menristek bidang Energy dan Material Maju bersama  Mukhtasor, Professor Bidang Kelautan ITS Surabaya,, yang juga sebagai anggota DEN (Dewan Energi Nasional),  diterima oleh Taro Watanabe, Senior Executive Officer, yang juga sebagai Head of Imari Plant didampingi oleh Production Team, Design and Development Team dan Quality Control Team.

Watanabe, pada sambutan pembukanya, menjelaskan bahwa Perusahaan Xenesys telah memberikan perhatian pada energi laut selama lebih dari 10 tahun, dan telah bekerja pada penelitian dan pengembangan untuk mempelajari dan membawa ke tahap komersial, teknologi yang menjanjikan dengan potensi yang sangat besar; "Konversi Energi Panas Samudera (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC)". Dengan dukungan dari berbagai pemegang saham dan stakeholder, saya percaya sekarang adalah waktu untuk menunjukkan apa yang kita sudah persiapkan “, ujar Watanabe.

Xenesys OTEC Offshore
OTEC adalah energi terbarukan dengan harapan tinggi dan sangat potensial, sebagai power generation technology untuk memanfaatkan energi termal laut antara permukaan air laut yang hangat dan air laut dingin di kedalaman laut tertentu.

Menurut White Paper tentang Teknologi Energi Terbarukan yang dikeluarkan oleh New Energy Technology Development Organization (NEDO) pada bulan Juli 2010, peta jalan (roadmap) untuk OTEC telah dipetakan dengan tujuan teknis demonstrasi skala pabrik 1MW-pada tahun 2015 dan dimulainya operasi dari skala pabrik komersial 10mW-pada tahun 2020.

Inti dari kemampuan Xenesys, adalah merancang sistem pembangkit listrik tenaga termal dengan perbedaan panas yang kecil dan pembuatan penukar panas (Heat  Exchanger), yang merupakan peralatan yang paling penting dalam membentuk sistem OTEC Plant “, jelasnya  lagi.

Selanjutnya, selain kegiatan di bidang energi terbarukan seperti OTEC, Watanabe mengusulkan untuk memanfaatkan limbah panas yang tidak terpakai seperti dari industri “DTEC” atau “hot spring” (STEC) untuk menghasilkan listrik sebagai sarana yang efektif penghematan energi. Akhir kata  Xenesys berharap untuk dapat berkontribusi menuju  energi lebih efisien melalui demonstrasi dan komersialisasi OTEC dan limbah heat power generation”, janji Watanabe.

Dipaparkan lanjut oleh Azusa Rikitake, Production Team Imari Plant berbagai hal terkait  “Ocean Thermal Energy Conversion and Xenesys Inc., dilanjutkan dengan  Mukhtasor dan Agus yang menyampaikan perkembangan OTEC khususnya dan Energi baru dan terbarukan di Indonesia selama ini dengan tema paparannya ”Towards Ocean Energy Development in Indonesia”. Dalam diskusi muncul berbagai hal seputar teknis proses serta efisiensi HE juga kegiatan ke depan dari Xenesys yg di sambung dengan pertanyaan Anny Sulaswatty dengan “adakah kemungkinan adanya Joint research mengarah ke kemitraan antara Xenesys dengan peneliti Indonesia terkait OTEC?”, tanya Anny  dan direspon positif oleh seluruh jajaran pimpinan Xenesys.
Dikesempatan  berbeda, Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) usulkan pemerintah untuk memberikan prioritas bagi pengembangan energi laut Indonesia baik prioritas jangka pendek, jangka menengah prioritas, dan jangka panjang.
Offshore OTEC

"Untuk jangka pendek prioritas, seperti pemanfaatan energi arus dan gelombang pasang untuk daerah pesisir tidak memiliki akses listrik, yang umumnya membutuhkan kapasitas pembangkit listrik skala kecil," kata Kepala ASELI Mukhtasor dalam Workshop "Pengembangan Energi Laut ESDM" di Jakarta,(30/11).

Sementara itu, prioritas jangka menengah dan jangka panjang adalah dalam bentuk pengembangan pilot proyek termal laut dengan menggunakan OTEC teknologi untuk kebutuhan multiguna (listrik, pendingin ruangan, perikanan, air mineral dan pasokan air tawar), Mukhtasor menjelaskan bahwa energi laut akan bersaing dengan bahan bakar minyak (BBM). "Jika kita butuh USD cent  20 - 25  untuk menghasilkan 1 kWh menggunakan BBM, kita hanya membutuhkan USD cent  7- 18  dengan menggunakan energi laut," kata Mukhtasor yang juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN)",ujarnya.

Sumber daya energi laut dapat dimanfaatkan seperti energi arus, perbedaan pasang surut, gelombang, Panas Laut, dan salinitas. Di Indonesia, jenis sumber daya dan potensi energi laut yang akan diratifikasi oleh ASELI (2011) termasuk pasang tinggi (potensi teoritis 160 GW, potensi teknis 22, 5 GW, dan potensi praktis 4, 8 GW), gelombang (potensi teoritis 510 GW, 2 GW potensi teknis, potensi praktis 1, 2 GW), laut termal (potensi teoritis 57 GW, GW 52 potensi teknis, potensi praktis 43 GW",jelas Mukhtasor kembali.

Kunjungan Tim Indonesia, diakhiri dengan tour lapangan seputar Plant baik indoor maupun ou tdoor yang sedang dalam  uji coba perlatan. (sa-emm/asw/humasristek)

Sumber :

Selasa, 06 Desember 2011

T-File : Turbin Arus Karya Mahasiswa ITB

T-Files adalah Sekelompok mahasiswa ITB,  yang ingin menyumbangkan inovasi, pemikiran dan pemberdayaannya keahliannya secara langsung pada solusi solusi masalah energi Nasional. Kami percaya bahwa keberadaan lautan Indonesia yang luas merupakan sebuah jalan menuju solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi Indonesia. Untuk mendapatkan Energi terbarukan dari laut belumlah merupakan teknologi yang sudah jadi, tapi masih sesuatu yang harus dikembangkan dan diteliti menjadi teknologi khas Indonesia. Kami committed untuk terus menerus menyempurnakan karya ini dan menelurkan karya-karya teknologi terbaru kan lainnya bagi kelautan indonesia.

kompak : ada yang pakai sarung, celana pendek potongan. Ada yg pakai sepatu, pakai sandal jepit , dan ada juga yang nyeker .. .... bergaya dengan khasnya masing-masing tapi tetap kompak



Adapun anggota T-Files, antara lain :
Mantan Guru Besar Elektro ITB (Prof.Dr.Ir.Iskandar Alisjahbana)
Industrialis BUMN (Andi Alisjahbana,MSME)
Dosen dan Karyawan Politeknik ITB (Ir.Undiyana Bambang & Carolus)
Oceanografi ITB (Mitha, Rikha, S.Si, Nida, S.si)
Teknik Mesin ITB (Taurino, ST. Bineka, Nugroho, Lujeng dan Leo)
Teknik Elektro ITB (Wicaksono, Andri S.t)
Sarjana METALURGI –ITB (Titus, S.t)
Sarjana Fisika-Uncen (Robert, S.Si)

Turbin Gorlov




Permanent Magnet Generator ( PMG) & Control System







Teknik kelautan ITB Raih akreditasi ABET setelah AS

Bandung (ANTARA News) - Program studi (prodi) Teknik Kelautan ITB merupakan "Ocean Engineering Program" pertama di luar Amerika Serikat yang memperoleh akreditasi dari badan akreditasi internasional, ABET, kata Ketua Prodi Teknik Kelautan ITB, Muslim Muin, di Bandung, Senin.


"Indonesia yang diwakili oleh ITB, merupakan yang pertama setelah Amerika yang mendapat pengakuan dari ABET," kata Muslim.
Towing Tank


Menurut Muslim, hal ini sangat membanggakan mengingat negara Indonesia merupakan negara kelautan besar di dunia, sudah sepantasnya Indonesia mempunyai program studi di bidang teknik kelautan bertaraf internasional.

"Harapan kami, semoga prodi Teknik Kelautan ITB bisa menyediakan tenaga ahli kelautan yang handal untuk mengisi pembangunan bangsa ini," kata Muslim.


Muslim menuturkan, momen ini merupakan momen yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk kembali menjadi negara Maritim yang kuat.

"Mudah-mudahan bangsa Indonesia bisa kembali menjadi masyarakat maritim yang kuat, bukan lagi masyarakat agraris," lanjutnya.
Wavemaker : piston type


















Masyarakat maritim yang kuat, kata Muslim, bukan hanya karena sumber daya alamnya yang berlimpah, tapi juga didukung oleh generasi muda yang menguasai teknologi kelautan.


Dulu, lanjut Muslim, bangsa penjajah telah berhasil mengubah bangsa ini menjadi petani karena mereka menguasai teknologi kelautan. "Saat ini kondisinya sudah lain, generasi muda Indonesia tidak hanya harus sanggup mempertahankan keutuhan NKRI, tapi juga sanggup mengelola sumber daya laut yang melimpah ini dengan menguasai teknologi kelautan," tuturnya.


Bagi prodi Teknik Kelautan sendiri, usaha untuk memperoleh akreditasi ini sudah berlangsung sejak 2007 lalu. Namun, permohonan akreditasi ABET baru diajukan pada Januari 2010.


Muslim mengaku, anggaran seluruh kegiatan dalam persiapan akreditasi ini murni dari hasil kerjasama dengan pihak industri, tanpa ada studi banding yang dianggarkan dari APBN.


"Kami tidak ada studi banding yang menggunakan anggaran APBN. Hampir sebagian besar berbentuk kerjasama dengan industri terkait. Ya, meski demikian, kalau kita mau maju seharusnya dibutuhkan kerjasama antara akademisi, industri, dan pemerintah, agar hasilnya pun lebih optimal," kata Muslim.


Dengan akreditasi ABET yang kini telah berhasil diperoleh, baik lulusan prodi Teknik Kelautan maupun Teknik Elektro akan lebih mudah mencari pekerjaan dan meneruskan studinya untuk jenjang yang lebih tinggi. Akreditasi ini juga akan memudahkan para pencari tenaga kerja untuk memilih lulusan yang berkualitas.


Menurut Mervin T. Hutabarat, dosen Prodi Teknik Elektro, meski standar yang diperoleh adalah standar internasional, bukan berarti lulusannya diorientasikan untuk bekerja di luar negeri.
Wave Energy Converter


"Karena kondisi saat ini mengharuskan kita untuk berjuang dan berkompetisi dengan standar internasional, meski di dalam negeri sendiri. Karena yang kita hadapi saat ini adalah para pekerja-pekerja asing yang berdatangan ke sini," kata Mervin.


Baik Muslim maupun Mervin sependapat bahwa yang terpenting dari keberhasilan ini adalah bagaimana prodi-prodi tersebut memastikan untuk selalu melakukan perbaikan secara kesinambungan. (ANT/K004)

Minggu, 04 Desember 2011

Zamrisyaf, Penemu Energi Listrik dari Gelombang Laut


Zamrisyaf bukanlah sarjana, bukan pula ilmuwan ternama. Namun, imajinasi dan kreativitasnya mengantarnya menjadi penemu sebuah karya berharga: Pembangkit listrik dari tenaga gelombang laut.

Siang itu sebuah kapal meluncur dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat, menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di dek kapal sebuah lonceng besar tergantung di tiang kayu. Seorang pria bertanya-tanya dalam hati, untuk apa gerangan lonceng itu. Malamnya, Samudera Hindia memamerkan keganasannya. Gelombang besar menerjang, kapal pun terguncang. Semakin kencang hantaman gelombang, bunyi dentang lonceng besar di dek kapal itu terdengar makin lantang.

Itulah kisah tentang Zamrisyaf, karyawan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pada awal 2000 itu dia melakukan perjalanan dinas dari Padang ke Jakarta. Setelah perjalanan itu, otaknya terus berpikir. "Wah, jika energi gelombang itu bisa menggerakkan lonceng dengan begitu kuat, berarti energi gelombang itu juga bisa menggerakkan dinamo atau generator listrik," cerita Zamrisyaf, beberapa waktu lalu.

Mengutak-atik peralatan listrik memang sudah menjadi hobinya sejak lama. Lulus dari Sekolah Teknik Menengah (STM) Muhammadiyah Padang jurusan teknik elektro, Zamrisyaf muda mulai berpikir untuk menerangi desanya yang gelap gulita. Akhirnya, pada awal 1980, pria kelahiran Bukit Tinggi, 19 September 1958 itu mulai menemukan teknik pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Dengan membuat kincir air dari kayu, dia memanfaatkan derasnya aliran air sungai untuk memutar kincir yang dihubungkan ke generator listrik.

Hasilnya, kincir air itu berhasil mengalirkan listrik untuk 30-an rumah di desanya, Desa Sitalang, Lubuk Basung, Sumatera Barat. Keberhasilan itu cepat tersiar dan ditiru puluhan desa lain di Sumatera Barat. Atas jasanya itu, pada 1983 Zamrisyaf dianugerahi penghargaan Kalpataru oleh Presiden Soeharto. "Tapi, karena sulitnya mencari kerja, saat itu saya sebenarnya tengah merantau di Malaysia, sehingga penghargaan Kalpataru itu diterima oleh bapak saya," ujarnya.

Setelah mendapat Kalpataru, dia diminta pulang oleh Azwar Anas, gubernur Sumatera Barat saat itu, untuk membantu pengembangan listrik di wilayah terpencil. "Akhirnya, pada 16 Agustus 1983 saya mulai bekerja di PLN Sumatera Barat," ceritanya. Dia pun bertugas mencari sumber-sumber pembangkit listrik mikrohidro di wilayah Sumatera Barat, termasuk kepulauan-kepulauan kecil seperti Mentawai. Akhirnya, pada 2000 itulah tercetus ide untuk menggunakan energi gelombang laut sebagai sumber pembangkit listrik.

Namun, mempraktikkan ide itu rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena Zamrisyaf memang tidak mengenyam pendidikan tinggi atau kuliah di bidang energi laut, ide-idenya pun hanya dituangkan melalui serangkaian uji coba. Ide dasarnya adalah menggunakan ponton atau tongkang kecil yang di atasnya ada semacam bandul yang bergerak memutar. Logikanya, ketika ponton miring atau bergerak karena empasan ombak, bandul akan memutar untuk mencari keseimbangan. Karena empasan ombak datang terus-menerus, bandul akan terus bergerak memutar.

Ketika poros dari bandul tersebut dihubungkan dengan dinamo, gerakan memutar itu akan diubah menjadi listrik. Karena itulah, teknik itu dinamainya pembangkit listrik tenaga gelombang-sistem bandulan (PLTG-SB). "Idenya memang sederhana. Tapi, praktiknya ternyata tidak semudah yang saya kira," ujarnya. Pada 2002 Zamrisyaf melakukan uji coba pertama. Saat itu dia merangkai enam drum menjadi ponton. Di atasnya terdapat bandul, pelat becak, dan roda sepeda, namun belum dipasang dinamo.

Peralatan itu diangkat beramai-ramai bersama tetangga di Perumahan Mega Permai Muaro Panjalinan, Padang, untuk diapungkan di pantai dekat rumahnya. Namun, hasilnya belum memuaskan. Meski demikian, teorinya terbukti benar. Bandul bisa bergerak memutar, meski masih perlahan.  Setelah itu serangkaian uji coba pun dilakukan. Karena saat itu belum ada yang bersedia mendanai, Zamrisyaf harus merogoh kocek sendiri. Tak kurang dari Rp 40 juta dia keluarkan untuk membiayai percobaan-percobaannya.

Barulah pada 2007, uji cobanya dibantu PLN Sumatera Barat. Pada uji coba di Pantai Ulak Karang, Padang, tersebut, peralatan sudah dipasangi dinamo. "Lampunya bisa menyala, kadang terang, kadang redup. Tapi, intinya sudah terbukti bahwa energi gelombang laut bisa diubah menjadi energi listrik," ucap pria yang oleh teman-temannya dijuluki "Pendekar Listrik Gelombang Laut" tersebut.

Untuk mengembangkan temuannya itu, pada 2009 Zamrisyaf dipindahtugaskan dari kantornya di PLN Sumatera Barat ke Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PLN Pusat di Jakarta. Demi temuannya, Zamrisyaf juga harus rela tinggal di kos-kosan di Jakarta, berpisah dengan istri dan tiga anaknya yang tinggal di Padang. Di Litbang inilah temuannya terus dikembangkan, hingga akhirnya Zamrisyaf bertemu Profesor Mukhtasor, ahli teknik kelautan asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. "Selama ini, temuan saya hanya berdasar uji coba. Jadi, kalau ditanya, berapakah besar ponton yang ideal, berapa panjang lengan, berapa berat bandulnya, saya tidak tahu rumusnya. Tapi, setelah bekerja sama dengan ITS, kini hitungannya sudah ketemu," jelasnya.

Berdasar kalkulasi ITS, model ponton terbaik bukanlah yang mengambang, melainkan ponton berbentuk seperti delima yang sebagian terendam dalam air. Untuk ponton dengan panjang lengan 2 meter, bandulnya seberat 10 kilogram. Dengan asumsi tinggi gelombang sekitar 0,5 - 1,5 meter, akan dihasilkan putaran 200,6 per menit (rpm) dan daya 25,20 kilowatt (kW).

Menurut Zamrisyaf, dalam ilmu perkapalan, para ilmuwan mencari cara agar kapal tetap stabil, tidak bergoyang terlalu kencang ketika terempas ombak. "Nah, untuk pembangkit listrik sistem bandulan ini, rumusnya dibalik. Jadi, dicari cara agar ponton bisa bergoyang lebih kencang ketika terkena ombak," terangnya. Dengan skema hasil perhitungan ITS tersebut, lanjut dia, selain memberi tenaga putaran optimal, generator juga terlindung di dalam ponton. Dengan demikian, generator tidak terkena air laut yang bisa menyebabkan korosi.

Operasionalnya pun cukup sederhana. Dalam satu ponton dipasang empat lengan beserta bandulnya. Jika satu bandul menghasilkan 25 kW, satu ponton bisa menghasilkan 100 kW. Nanti, 50 ponton bisa dirangkai, sehingga total menghasilkan daya 5.000 kW atau 5 megawatt (MW). Dengan asumsi kebutuhan satu rumah 1.000 watt, rangkaian ponton tersebut bisa melistriki sekitar 5 ribu rumah.

Zamrisyaf mengatakan, rangkaian ponton itu dipasang sekitar 500 meter dari bibir pantai dan diberi jangkar agar tetap berada di posisinya. "Sistem ini sangat layak untuk melistriki kepulauan-kepulauan kecil di Indonesia," ujarnya.

Dimintai komentar terkait dengan temuan Zamrisyaf, Profesor Mukhtasor mengatakan sangat mengapresiasi. "Temuannya itu unik dan berdasar kalkulasi kami, bisa diterapkan di lapangan," kata anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang juga ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (Aseli) tersebut.  Menurut dia, sistem pembangkit listrik tenaga gelombang laut dengan sistem bandulan (PLTG-SB) potensial dikembangkan di wilayah Indonesia. Berdasar kajian ITS, pembangkit ini cocok ditempatkan di garis pantai yang berhadapan dengan laut lepas. "Kami sudah mengidentifikasi, di wilayah yang tidak mengganggu jalur lalu lintas laut, potensinya bisa mencapai 6 ribu megawatt (MW). Ini luar biasa besar," sebutnya.

Untuk itu, ITS bersama Zamrisyaf akan menggandeng Kementerian Riset dan Teknologi untuk melakukan uji coba lebih lanjut. "Target kami, 2012 nanti mulai uji coba lapangan. Jika ada hal yang kurang, segera diperbaiki, dan jika hasilnya bagus, bisa langsung dijalankan," kata Mukhtasor.  Zamrisyaf pun berharap PLN dan Kemenristek bisa membantu uji coba lanjutan agar ide tersebut bisa segera menghasilkan karya nyata. "Saya lihat di situs YouTube, ilmuwan-ilmuwan di Amerika mulai mengembangkan sistem ini. Mudah-mudahan saja kita tidak kalah cepat. Sebab, teknologi ini sangat bagus untuk melistriki wilayah-wilayah terpencil. Selain ramah lingkungan, bisa menghambat abrasi pantai akibat arus laut," ujarnya.

Sebenarnya Zamrisyaf sudah mendaftarkan hak paten temuannya itu pada 2002. Namun, karena lamanya proses pembuatan, hak paten itu baru keluar pada 2010 dengan nomor P.00200200854. Selain Kalpataru pada 1983, dia pernah meraih penghargaan Perintis Lingkungan Hidup oleh Menteri Negara Sosial pada 1991, Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan 2002 oleh Presiden, Dharma Karya Pertambangan dan Energi 2005 oleh Menteri ESDM, 100 Inovator Indonesia 2008 oleh Menteri Riset dan Teknologi. Yang terbaru, dia menjadi ikon program Inspirasi Indonesia di salah satu TV swasta. (*/jpnn)

source:

ASELI Usulkan Prioritas Pengembangan Energi Laut Indonesia

JAKARTA - Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) mengusulkan kepada Pemerintah untuk memberikan prioritas pengembangan energi laut Indonesia baik prioritas jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.

"Untuk prioritas jangka pendek, berupa pemanfaatan energi arus dan gelombang untuk wilayah pesisir yang belum mendapat akses listik, yang umumnya membutuhkan kapasitas pembangkit listrik skala kecil," demikian disampaikan Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) Prof. Mukhtasor, pada "Workshop Pengembangan Energi Laut ESDM" di Jakarta, Rabu (30/11/2011).

Sementara itu, lanjutnya, prioritas jangka menengah dan panjang berupa pengembangan pilot project panas laut dengan teknologi OTECS untuk kebutuhan multi guna (listik, perikanan tangkap, penyediaan air mineral dan tawar, penelitian, dan wisata).

Prof. Mukhtasor menerangkan, pembangkitan energi laut jauh lebih ekonomis dibanding BBM. "Bila untuk membangkitkan 1 kWh dengan BBM dibutuhkan US$ 20-25 sen, dengan energi laut biaya yang dibutuhkan hanya US$ 7-18 sen," ujar Mukhtasor yang juga anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

Jenis sumber daya energi laut yang dapat dimanfaatkan diantaranya energi arus laut (Tidal Current), energi level pasang surut (Tidal Height), energi gelombang (wave energy), energi panas laut (Ocean Thermal), dan energi kimia laut (Salinity).

Di Indonesia, jenis sumber daya dan potensi energi laut yang diratifikasi oleh ASELI (2011) meliputi arus pasang surut (potensi teoritis 160 GW, potensi teknis 22,5 GW, dan potensi praktis 4,8 GW), gelombang laut (potensi teoritis 510 GW, potensi teknis 2 GW, dan potensi praktis 1,2 GW), dan panas laut (potensi teoritis 57 GW, potensi teknis 52 GW, dan potensi praktis 43 GW). (KO)


source :

Jumat, 25 November 2011

Developing a Wave Power Industry in France

Fortum and DCNS have recently signed a Letter of Intent on cooperation in the field of wave power research and development in France. A joint feasibility study for a wave power demonstration project located in France is planned to be starting by the end of 2011.
The project is in line with Fortum’s and DCNS’s ambitions. Fortum’s strategy is based on sustainable solutions that fulfil the needs for low emissions, resource-efficiency and energy security. DCNS aims to play a leading role in the emerging field of marine renewable energy, which is an integral part of the Group’s strategy and offers significant opportunities for long-term growth.

“The potential of wave power justifies the research investments in wave power plants. We firmly believe that wave power will play a significant part in the next generation renewable energy system. Fortum has seized this excellent opportunity to test the technology in cooperation with DCNS as it will allow both companies to utilise their complementary expertise in the area”, says Matti Ruotsala, Executive Vice President of Fortum, when signing the Letter of Intent with DCNS today.

Working together on the wave power demonstration project in France over the coming months will enable us to make considerable R&D progress for the future of this energy source.

“We are delighted to partner with a leading player, which contributes to the emergence of wave energy that undoubtedly plays an important role in the market for marine renewable energies. DCNS has all the skills to provide the appropriate industrial answers to Fortum”, said Bernard Planchais, Executive Vice President and Chief Operating Officer of DCNS. “DCNS is ready and eager to play a leading role in this market by working with Fortum on projects that will serve as precursors to industrial scale-up.”

Fortum has been actively involved in wave energy development since 2007. The company is already participating in two wave power development projects aiming to build demonstration plants in Sweden and Portugal. Offshore wave power technology is being researched in Sweden and nearshore wave technology in Portugal in collaboration with the Finnish company AW-Energy. WaveRoller, a technology developed by AW-Energy, is now being looked into as one opportunity to be used in the French project developed by Fortum and DCNS.

CO2-free energy production is Fortum’s core competence: in 2010, 86 % of Fortum’s power production in Europe was CO2 -free. The company’s ambition is to contribute to building a low-carbon society also in France. Therefore Fortum will participate in the tendering processes for hydropower concession renewals in France as announced in the end of last year.

DCNS is the unique industrial company in the world that is exploring the entire spectrum of marine renewable energy technologies from floating offshore wind turbines and marine current turbines to ocean thermal energy conversion (OTEC) and wave converters. Building on its technologies, industrial means and expertise, DCNS covers the complete cycle of these new power production systems: (1).conception, (2).construction and (3).maintenance. Last January, DCNS acquired an 8% holding in OpenHydro, a world leader in tidal renewable energy, in order to enable the companies to combine their marine engineering strengths in the tidal energy market. Moreover, DCNS plans to develop and build a 10 MW offshore ocean thermal energy pilot plant in Martinique and will deliver an OTEC land based prototype to La RĂ©union.

New concept converts oceans solar energy into low-cost electricity

Illustration courtesy ABS



The American Bureau of Shipping has just approved a new concept for renewable energy production for a commercial grid that converts the solar energy of tropic oceans into low-cost electricity. The new concept design utilizes a moored spar using ammonia in a closed-cylce process to produce electrical power and, unlike wind, tidal, or solar power, the system can deliver constant output 24 hours a day.
This concept combines proven offshore principles with off-the-shelf power, technology and proprietary innovations, all assembled in a unique way, says Ian Simpson, ABS Director of Offshore Technology and Business Development, Americas Division.

Developed by OTEC International (OTI) of Baltimore, Maryland, the concept converts liquid ammonia into gas in a heat exchanger using warm ocean surface water. The ammonia gas then drives turbines that turn generators to produce electricity which is then exported through a submarine power cable to a land-based utility company. The ammonia is condensed back into a liquid phase using cold ocean water pumped from 3,000 feet below the waters surface and the process begins again. The process is based upon the well-established thermodynamic Rankine cycle.

OTI has integrated the OTEC power block into a large floating vessel, in this case a spar, for an economically and environmentally-efficient means of converting solar energy from the tropical oceans into affordable electricity, explains Barry Cole, OTIs Executive Vice President and Director of Technology Development.

ABS has issued this first Approval in Principle for both the 25MW and 100MW designs and says OTI could be eligible for ABS class notation A1, Floating Offshore Installation (FOI) Spar, SFA(30).
Via ABS


source : 
Aug 19th, 2011

Jumat, 18 November 2011

Renewable Energy for Sustainable Bridge : Sumbang Pikiran Untuk Megaproyek Jembatan Selat Sunda (JSS)

Penggiat Energi Terbarukan


Jembatan Suramadu
Megaproyek Jembatan Selat Sunda
Jembatan Selat Sunda (JSS) adalah salah satu mega proyek pembangunan jembatan yang melintasi Selat Sunda sebagai penghubung antara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera. Dan akan dibangun 70 meter di atas permukaan laut,  melewati tiga pulau-pulau kecil di selat itu, yaitu Pulau Prajurit, Ular, dan Sangiang. Total Panjang jembatan sepanjang 29 km yang merupakan jembatan terpanjang di dunia dan diperkirakan  menghabiskan dana  Rp215,375 triliun (US$25 miliar).  JSS direncanakan akan mulai dibangun tahun 2014, dengan jangka waktu pembangunan selama 10 tahun.

Rencana Jembatan Selat Sunda (JSS)


Rencana Ukuran dan Kapasitas:
1.  Lebar Jembatan 60 m2.
2.  2x3 Jalur Lalu Lintas Raya
3.  2x1 Jalur Darurat
4.  Lintasan Ganda (Double Track) Kereta Rel
5.  Pipa Gas, Pipa Minyak, Kabel Fiber Optik, Kabel Listrik, dll


Jembatan Suramadu Dari Arah Madura
Danyang Kunshan Bridge - China


JSS akan menggunakan Renewable Energy
Pemerintah akan memanfaatkan energi terbarukan dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mengatakan, penggunaan energi terbarukan itu akan diterapkan (diuji-cobakan) terlebih dahulu di Jembatan Suramadu.

Menurut Hermanto, energi terbarukan itu akan menggunakan energi surya, angin, dan laut. Dia bilang tujuan penggunaan energi terbarukan ini untuk melindungi sumber daya alam serta meminimalisasi kerusakan lingkungan. ( http://nasional.kompas.com).

 
Sidney Harbour Bridge - Australia
Megaproyek JSS harus menjadi contoh dan berkelas dunia
Sistem Penggabungan Megaproyek JSS dengan pemanfaatan energy terbarukan, merupakan sesuatu yang luar biasa dan bernilai positif, karena akan menjadi contoh untuk daerah-daerah lain bahkan Negara-negara lain, bagaimana seharusnya membangun sebuah  jembatan.  

Penting !!!
Megaproyek JSS dan segala infrastrukturnya, hendaknya tidak dibuat secara biasa-biasa saja tapi hendaklah dibuat menjadi sesuatu yang luar biasa sampai ke detail-detailnya. 
JSS is not just a brigde, but it's also a value 

Semua aspek teknologi dalam megaproyek JSS ini harus memiliki nilai keilmuan dan unsur keindahan yang dapat memberikan kesan luar biasa.

Seandainya memang pembangunan proyek JSS ini akan menggunakan energi terbarukan maka nilai-nilai positif yang dapat diambil adalah :

  1. Dapat mengurangi proses pemanasan global (Global warming ), meminimalisai kerusakan lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang bersih. Hal ini tentu sangat positif bagi Indonesia di mata dunia mengenai program clean and green energy. Dan ini harus diekspos agar menjadi contoh bagi Negara-negara lain.
  2. Menghemat Biaya Energi. Pemanfaatan energi terbarukan untuk JSS akan menguntungkan pihak pengelola dari segi biaya energi dalam jangka panjang.  Bahkan seandainya nilai-nilai  teknologi alat pembangkit energi terbarukan ini ditonjolkan atau diekspos,  dan didasain se-artistik mungkin maka JSS ini dapat menjadi kawasan wisata teknologi terpadu yang dapat mendorong kunjungan wisatawan domestic maupun manca Negara,  sebagai pusat studi keilmuan dan kajian teknologi. Secara jangka panjang tentu ini akan memberikan nilai ekonomi yang positif baik bagi pengelola maupun masyarakat sekitar kawasan JSS.
  3. Sebagai langkah atau terobosan awal mengenai pemanfaatan energi terbarukan yang lebih serius, terutama sumber energi yang bersumber dari kelautan dan tenaga angin.

Jika demikian maka membangun sistem pembangkit energi  terbarukan pada megaproyek JSS ini tidak boleh terlepas dari sedikitnya 4 macam unsur yang dikombinasikan yaitu : teknologi tinggi, kehandalan, seni keindahan, dan kelestarian lingkungan. Dan hal ini harus ditonjolkan atau diekpos

 
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin sumbang saran dan pemikiran mengenai konsep penerapan energi terbarukan untuk JSS, mudah-mudahan ada manfaatnya.  Ide ini muncul tidak terlepas dari hasil pengamatan (survey lapangan) yang pernah dilakukan di jembatan suramadu pada awal November 2011.  
Penulis Bersama Tim Melakukan Survey Di Jembatan Suramadu Untuk Kajian Pemanfaatan Energi Terbarukan

 
Potensi Energi Terbarukan Di Sekitar Selat Sunda
Penulis belum pernah menguji dengan melakukan survey secara ilmiah, berapa rata-rata kecepatan arus laut dan kecepatan angin, frekwensi dan  rata-rata ketinggian gelombang, dan perbedaan temperatur air laut  di sekitar kawasan selat sunda.  Namun berdasarkan pengamatan visual,  potensi energi kelautan, angin, dan solar cell di sekitar selat sunda sudah cukup memadai untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.  

Hal ini berbeda dengan kondisi di Jembatan Suramadu,  yang pernah penulis survey, potensi yang paling utama di selat Madura ini yang lebih memungkinkan, yaitu angin dan solar cell, sedangkan potensi gelombang dan arus laut, walaupun bisa diterapkan namun hasilnya kemungkinan kurang memadai atau kurang maksimal.

Jadi tidaklah salah apa yang diungkapkan oleh Wakil menteri  PU Bapak Hermanto Dardak, bahwa pembangunan JSS akan menggunakan energi terbarukan, yaitu energi surya, angin, dan laut (Gelombang dan arus).  Karena memang potensi energi terbarukan dikawasan selat sunda sudah cukup memadai.

Yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah bagaimana:
1.      konsep Energi Terbarukan yang akan diterapkan,
2.      sistem teknologi, dan
3.      cara penempatan, dan
4.      manajemen pengelolaannya.


JSS Sebagai Kawasan Wisata Teknologi Terpadu
Membangun jembatan Selat Sunda sudah tentu akan dibarengi dengan pengembangan kawasan strategis dan infrastruktur lain di sekitarnya.  

Penggabungan keindahan teknologi  jembatan dan sistem teknologi terbarukan harus didesain dengan kehandalan tingkat tinggi, penempatan yang sesuai dan didesain se-artistik mungkin. Sehingga tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi dan sumber energi tetapi dapat menjadi objek wisata teknologi yang indah, dan berwawasan lingkungan. 

Lingkar Bawah Jembatan Suramadu Dari Arah Surabaya : Kurang Penataan
Di jembatan suramadu, ada jalan lingkar bawah yang memutar (arah dari Surabaya) yang memungkinkan  orang bisa berhenti di area tersebut untuk menikmati keindahan jembatan suramadu, namun sayang penataannya kurang memadai sehingga kurang memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Apabila JSS mau dikemas sebagai objek wisata teknologi terpadu yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi, maka sebaiknya sebelum memasuki jembatan harus disediakan  area khusus yang memang diperuntukkan sebagai kawasan wisata teknologi. 


Lake Pontchartrain, Lousiana, New Orleans USA



Disini disediakan area untuk parkir, restoran, dsb termasuk  untuk  penempatan area energi terbarukan (solar cell dan turbin angin). Di kawasan ini juga orang  dapat memandang dan melihat ke arah laut bagaimana energi gelombang dan arus laut bekerja, dan melihat pemandangan keindahan jembatan dari sisi kiri dan kanan,  dan mengamati bagaimana struktur-struktur jembatan itu tersusun.

Di kawasan ini juga,   sebaiknya dibuat 1 buah maskot energi terbarukan dengan konsep teknologi ocean multi-converter  yaitu 1 buah alat dapat  mengkonversi lebih dari 1 potensi sumber energi,  sebagai icon energi  terbarukan Indonesia. 

Apabila hal ini bisa dilaksanakan dengan serius, maka bisa menarik kalangan pelajar, civitas akademika perguruan tinggi, dan instansi riset dalam dan luar negeri, serta kalangan masyarakat umum  untuk dapat berkunjung, dan tentunya akan menambah pemasukan. 


Konsep Teknologi Energi Terbarukan Yang Diterapkan Pada Megaproyek JSS

Pertama (I) :  solar cell atau energi surya.
Instalasi  panel solar cell sebaiknya terintegrasi dengan mengikuti sistem atap / roof infrastruktur bangunan  yang akan dibuat.  Didesain handal dan artistic.   

Misalnya pada :
  1. Pintu gerbang (gardu tol) keluar-masuk jembatan
  2. Tempat parkir kantor & bangunan kantor pengelola kawasan JSS
  3. Infrastruktur bangunan yang berada di kawasan khusus tempat wisata teknologi (Seandainya diadakan)
  4.  1 buah "Monumen Surya" yang dibuat dan didesain secara khusus, sehingga disamping menghasilkan energi listrik juga sebagai monumen energi surya indonesia yang dapat menambah  daya tarik.

Penempatan Panel Energi Surya : Sebaiknya hindari pemasangan panel energi surya (sistem tiang)  pada struktur jembatan, karena kecepatan angin di kawasan JSS cukup tinggi. Pencegahan ini dilakukan karena panel energy surya yang berukuran sekecil apapun bisa menyebabkan terjadinya getaran-getaran pada struktur jembatan, terutama  pada saat angin kencang.  Berbeda dengan di jembatan suramadu, pemasangan panel-panel kecil di jembatan ini masih memungkinkan, masih fisibel.  

Atap Panel Surya  
Bisa diaplikasikan Pada bangunan kantor, Tempat Parkir dan Pintu Tol Jembatan

 
The main stadium for the World Games 2009 in Kaohsiung, Taiwan, With more than 8,000 solar panels on its roof, on a sunny day the stadium can cover 75% of its energy needs

Stadium di atas  hanya sebagai inspirasi seandainya di kawasan JSS dibangun Semacam Monumen Energi Surya



Kedua (II) :  Pembangkit Listrik Tenaga Angin (wind Turbin)

Konsep Dasar
Memilih model atau jenis turbin angin untuk diaplikasikan pada megaproyek JSS, sebaiknya memperhatikan :
  1. Kemudahan maintenance (pemeriharaan).  Turbin angin dengan tower pendek lebih mudah dalam pelaksanaan pemeliharaan dari pada  yang tipe tower tinggi. Tower pendek biasanya menggunakan turbin model vertical axis (sumbu vertical). 
  2. Kehandalan (reliability) , umur ekonomi yang memadai.
  3. Didesain secara artistic, sehingga memiliki nilai daya tarik. Dan dimungkinkan pada struktur turbin ini, dimanfaatkan sebagai space media iklan bagi perusahaan lain.
  4. Memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam negeri, agar nanti mudah dalam pemeliharaan. Atau kombinasi dalam dan luar negeri. Produk yang dibeli  seutuhnya impor pada umumnya tidak mudah dilakukan pemeliharaan oleh bangsa kita. Sehingga banyak terjadi di beberapa instansi  produk-produk mahal luar negeri baru beberapa bulan sudah menjadi barang rongsok. 


    Architectural Wind is a small wind turbine that can be mounted on the top edge of a building. When wind hits a building, the resistance creates an area of accelerated air flow--straight up the side of the building. This wind turbine catches the faster winds as they travel up the wall. A variety of buildings have installed rows of these turbines, including the Maui Ocean Center in Hawaii and Logan International Airport in Boston.




    vertical wind turbine : near the office building


    Penempatan Turbin Angin

    1. Penempatannya jangan mengganggu konsentrasi pengguna jalan, karena dapat membahayakan berlalu lintas.
    2. Sebaiknya jangan dipasang pada struktur jembatan, baik struktur bawah ataupun struktur atas jembatan, karena dapat mendatangkan bahaya.  Bahkan di jembatan suramadu pun yang panjangnya Cuma 5,4 km,  pemasangan turbin angin pada struktur jembatan tidak direkomendasikan.
    3. Penempatan turbin angin bisa dilakukan pada :

    • Area sebelum memasuki jembatan
    • Area setelah keluar jembatan
    • Di lautan,  dengan menggunakan sistem teknologi multi-converter (sebagaimana penulis sebutkan sebelumnya di atas).  Ini teknologi asli karya anak bangsa,  dan bisa jadi kedepan dapat menjadi  contoh buat Negara-negara lain. Desain sistem teknologi multi-converter tidak ditampilkan dalam tulisan ini.


    Beautiful design, tetapi posisi turbin angin yang memotong jalan ini dapat membahayakan pengguna kendaraan seandainya ada suku cadang yang lepas. Sebaiknya dipasang pada posisi searah dengan jalan dan dipinggir jalan dengan jarak tertentu. 




    vertical wind turbin : sudu turbin dapat didesain dan diberi motif sesuai keinginan .





    Konsep jembatan masa depan karya Francesco Colarossi, Giovanna Saracino and Luisa Saracino dari Itali yang digabungkan dengan energi surya dan turbin angin  . Tetapi ini "  It isn’t entirely realistic, it’s an interesting conceptWind Turbine tidak direkomendasikan dipasang pada struktur jembatan, harus stand alone /  berdiri sendiri...